Jumat, 27 Januari 2012

PERANG BUBAT

Perang Bubat
Tahu akah anda dengan Perang Bubat?
Dimana Peristiwa pertempuran Bubat yang terjadi sekitar hampir 7 abad silam adalah sebuah peristiwa sejarah yang paling menarik untuk dikaji. Pasalnya, peristiwa yang menceritakan dendam kolektif itu tidak saja melahirkan aneka versi yang berkaitan dengan cerita-cerita tentang latar alasan kenapa peristiwa itu bisa terjadi, tetapi juga memunculkan pula aneka versi cerita yang berkaitan dengan apa yang terjadi setelah peristiwa Bubat.
Perang Bubat atau sebuah kejadian peperangan antara kerajaan Sunda dan kerajaan Majapahit, merupakan salah satu cerita sejarah yang sangat penting dalam perjalanan sejarah Nusantara. Terlebih lagi terhadap suku yang berada di kedua belah pihak, yakni kerajaan Sunda yaitu suku sunda dan kerajaan Majapahit, yaitu suku Jawa.
Majapahit yang sebenarnya merupakan bagian dari kerajaan Sunda, karena pendiri kerajaan Majapahit itu sendiri merupakan berasal dari orang Sunda (seperti hanya Sriwijaya di Palembang), yang nanti akan dibahas oleh penulis, karena pernikahan yang akan terlaksana tadinya merupakan jalan untuk memnjalin tali persaudaraan kembali antara kedua kerajaan.
Perang Bubat adalah salah satu tonggak sejarah yang sangat penting yang mewarnai perjalanan Nusantara. Perang yang mengawali kehancuran Majapahit itu menyisakan luka yang amat dalam bagi Jawa dan Sunda. Ini adalah akhir konflik kerajaan Majapahit dan Sunda Galuh, sekaligus kesalahan fatal Mahapatih Gajah Mada di akhir kariernya yang gilang gemilang.
Bukan hanya sebuah cerita fiktif belaka tentang terjadinya Perang Bubat ini . Perang ini bukan hanya telah menjadi cerita diantara kedua suku, namun juga menjadi sebuah tradisi dalam masyarakat akan hubungan keduanya. Dan juga yang perlu dibahas dalam masalah ini adalah kata “Perang”, namun pada kenyataannya ini adalah “Penyerangan” bukan perang, karena yang terjadi adalah penyerangan secara mendadak yang dilakukan oleh pihak Majapahit kepada kerajaan Sunda, yang keadaanya kekuatan tidak berimbang karena Sunda tidak ada maksud untuk peperangan melainkan untuk melaksanakan pernikahan anatara kedua pihak.

 
           Awal Mula
Perang Bubat, Peristiwa Perang Bubat diawali dari niat Prabu Hayam Wuruk yang ingin memnyunting putri Dyah Pitaloka Citraresmi dari Negeri Kerajaan Sunda. Awal mula ketertarikan Hayam wuruk terhadap Dyah Pitaloka karena beredarnya lukisan sang putri di Majapahit, yang dilukis secara diam-diam oleh seorang seniman pada masa itu, bernama Sungging Prabangkara dari kontes yang diadakan oleh pihak kerajaan Majapahit.  Teapi  adapula yang mengatakan dalam sumber lain, bahwa lukisannya dipesan langsung oleh pihak kerajaan Majapahit dengan mengirimkan intelejen oleh pihak kerajaan Majapahit ke Sunda-Galuh. Oleh karena itu, karena sang Raja Hayam Wuruk tertarik oleh kecantikan Citraresmi, maka pihak Majapahit atas restu dari keluarga kerajaan, Hayam Wuruk mengirimkan surat kehormatan lamaran kepada pihak kerajaan Sunda untuk melamar putri Maharaja Linggabuana, yaitu Putri Dyah Pitaloka Citraresmi.
Dalam buku Perang Bubat yang ditulis Yoseph Iskandar menyebutkan bahwa niat pernikahan itu adalah untuk mempererat tali persaudaraan yang telah lama putus antara Majapahit dan Sunda. Raden Wijaya yang  merupakan pendiri kerajaan Majapahit, dianggap keturunan Sunda dari Dyah Lembu Tal dan suaminya yaitu Rakeyan Jayadarma, raja kerajaan Sunda. Hal ini juga tercatat dalam Pustaka Rajyatajya i Bhumi Nusantara parwa II sarga 3.
Upacara pernikahan dilangsungkan di Majapahit. Pihak dewan kerajaan Negeri Sunda sendiri sebenarnya keberatan, terutama Mangkubuminya yaitu Hyang Bunisora Suradipati. Ini karena menurut adat yang berlaku di Nusantara pada saat itu, tidak lazim pihak pengantin perempuan datang kepada pihak pengantin lelaki. Selain itu ada dugaan bahwa hal tersebut adalah jebakan diplomatik Majapahit yang saat itu sedang melebarkan kekuasaannya, diantaranya dengan cara menguasai Kerajaan Dompu di Nusa Tenggara.
Linggabuana memutuskan untuk tetap berangkat ke Majapahit, karena rasa persaudaraan yang sudah ada dari garis leluhur dua negara tersebut. Berangkatlah Linggabuana bersama rombongan Sunda ke Majapahit, dan diterima serta ditempatkan di Pesanggrahan Bubat.


      Penyerangan di Bubat
Setelah rombongan dari kerajaan Sunda yang terdiri dari Maharaja Linggabuana beserta para mentri dan pengawal yang dalam kidung Sunda terdiri dari disebutkan bahwa Raja Sunda, permaisuri, dan putri bertolak ke Majapahit disertai 200 kapal besar ditambah kapal-kapal kecil sampai berjumlah 2.000. Raja Sunda dikisahkan menaiki kapal jenis jong buatan Cina. Informasi dari Kidung Sunda ini, meski harus dikonfirmasi dengan sumber lain kesahihannya, menunjukkan bahwa jumlah rombongan dari Kerajaan Sunda beribu-ribu orang. Namun  dari sumber yang lain hanya bdisebutkan bahwa Raja bersama para mentri datang dengan sedikit pasukan di pesanggrahan bubat. Namun dalam kidung sunda tersebut pula dinyatakan bahwa hanya 300 orang prajurit yang mengawal rombongan.
Disisi lain, dikatakan di Majapahit sedang dipersiapkan penyambutan akan kedatangan para rombongan kerajaan Sunda seperti yang ada dalam kidung Sunda bahwa diceritakan, Raja Hayam Wuruk beserta dua pamannya Raja Kahuripan dan Raja Daha sudah berkumpul di Bale Agung bersama para menteri dengan sukacita . Namun Gajahmada terlihat kontras sekali dengan keadaan yang ada. Dalam buku Yosep Iskandar yaitu Sang Mokteng Bubat diceritakan bahwa hayam wuruk dihasut oleh Gajahmada untuk menjadikan pernikahan ini sebagai tanda takluk kerajaan Sunda atas Superioritas Majapahit dan untuk melaksanakan Sumpah Palapa yang berisi tentang penguasaan seluruh Nusantara, dan kerajaan Sunda yang masuk dalam sumpah tersebut, merupakan kerajaan yang belum bisa ditaklukan, dikarenakan juga bahwa kerajaan Sunda merupakan leluhur kerajaan Majapahit.
Setelah berhasil menghasut Hayam Wuruk, Gajahmada memerintahkan untuk membatalkan penyambutan dan mengerahkan pasukan untuk menyatakan bahwa putri sebagai seserahan tanda takluknya Sunda oleh Majapahit. Terang merasa ditipu, pasukan kerajaan Sunda, yakni seorang Patih beserta petinggi kerajaan Sunda berselisih menolak akan hal itu dan memarhi Gajahmada atas apa yang di inginkannya.
Setelah itu, meski belum ada perintah dari Hayam Wuruk. Gajahmada mengerahkan pasukannya (Bhayangkara) ke pasanggrahan bubat untuk dan mengancam Linggabuana untuk mengakui Majapahit. . Demi mempertahankan kehormatan sebagai ksatria Sunda, Linggabuana menolak tekanan itu dan Linggabuana beserta pasukannya (Balamati) melawan pasukan Majapahit. Perangpun pecah dan pasukan kerajaan Majapahit dibawah komando Gajahmada diperintahkan untuk menyerang pasukan kerajaan Sunda. Dalam hal ini tentulah tidak sebanding, karena maksud kedatangan Maharaja Linggabuan adalah untuk pernikahan anatara Putri Dyah Pitaloka dengan Hayam Wuruk. Diakatan dalam buku Perang Bubat karangan Aan Merdeka Permana serta dalam artikel Majalah Ujung Galuh edisi 10 tahun 2009, dikatakan bahwa pasukan kerajaan Sunda dikalahkan oleh pasukan Majapahit bukan hanya kalah jumlah, meliankan jugsa taktik yang digunakan adalah taktik perang dari kerajaan Sunda sendiri, yang terdapat dalam kitab Pustaka Ratuning Bala Sarewu. Kitab ini ditulis oleh Tarusbawa yang berasal dari kerajaan Kendan dan hampir dikembangkan oleh 50 perwira perang dari kerajaan kendan, galuh hingga keraja Parabu Seda. Kitab ini dibawa oleh Prabu Sanjaya dari kerajaan Galuh ke Mataram Kalingga kemudian menjadi Raja. Dari mulai Mataram hingga Majapahit yang menggunakan kitab tersebut.
Jurus yang digunakan saat Perang Bubat sendiri, yaitu: Jurus Asu Maliput atau siasat pengepungan, merupakan taktik yang digunakan oleh pihak tentara Majapahit (Bhayangkara). Sedangkan jurus atau taktik yang digunakan oleh pihak pasukan sunda (belamati) adalah Jurus Gagak sangkur atau taktik pemecah perhatian agar memecah kekuatan lawan. Taktik ini digunakan oleh pihak sunda karena sesuai dengan jumlah pasukan Sunda yang sedikit dibandingkan dengan Majapahit.
Meski pasukan dari kerajaan Sunda berhasil melawan, namun dengan kekuatan yang tak seimbang, disebutkan dalam berbagai sumber bahwa kerajaan Sunda pun kalah pada penyerangan Majapahit tersebut, dan mengakibatkan Maharaja Linggabuana beserta para mentri dan rombongan yang ikut serta tewas dalam peristiwa tersebut. Bahkan para mantri yang ikut dalam rombongan tersebut dalam buku Yosep Iskandar melakukan bunuh diri sebagai tanda penghoramatan dan bela pati terhadap pasukan Sunda yang gugur, terlebih termasuk juga Maharaja Linggabuana yang ikut tewas dalan peristiwa tersebut. Namun mengenai berbagai versi dan sumber akan keberadaan Putri Dyah Pitaloka Citraresmi merupakan sebuah misteri dan kontroversi dalam sejarah, bukan hanya karena kurangnya sumber sejarah, melainkan pula ada unsur menutup-nutupi akan kebenaran cerita tersebut, karena kejadian ini adalah hal yang memalukan untuk pihak Majapahit. Tentang cerita kematian Putri Dyah Pitaloka Citraresmi ada yang menyatakan bahwa Citraresmi itu bunuh diri lalu meninggal dalam pangkuan Hayam Wuruk. Adapula yang menyebutkan bahwa Citraresmi tewas setelah bertarung dengan Gajahmada, serta adapula yang menyebutkan bahwa mayat yang berada ditempat tersebut bukan merupakan Citraresmi, melainkan selirnya yang menyemar. Bukan hanya itu, bahkan ada pula sumber yang menyatakan bahwa karena rasa takut akan Gajahmada para pasukan Majapahit menyerahkan abu pembakaran jasad seorang selir, yang dijadikan sebagai abu citrasresmi dan Citraresmi sendiri berhasil kabur ke kerajaan Sunda serta memerintah Sunda dari balik layar.
Meski demikian dinyatakan meninggal dibubat, namun keberadaan jenazah Citraresmi dalam kidung sunda ditemukan di pesanggarahan bukan dibubat dan tidak menceritakan para korban yang lain. Sementara dalam cerita tutur yang berkembang dikisahkan bahwa putri Sunda di dharmakan di lingkungan Keraton Majapahit di suatu tempat yang dinamai Citra Wulan (Rembulan yang cantik. Sekarang tersisa pada nama toponimis Trowulan-pen.).
Sementara masih dalam kompleks situs Trowulan tidak jauh dari Candi Kenconowungu, terdapat tempat bernama Sentanarajya (Keluarga Kerajaan. Sekarang tersisa pada nama toponimis Sentanareja-pen.) di mana ditemukan situs Sumur Upas (sumur beracun). Apakah di Sentanareja ini Raja Sunda beserta permaisuri dan selir di dharmakan? Perlu diadakan penelitian lebih lanjut.
Selain itu, Kidung Sunda mencatat bahwa dari sejumlah prajurit pengawal raja yang sudah bertekad untuk gugur bersama sang raja, ternyata masih ada yang hidup, yang digambarkan sebagai mantri Sunda bernama Pitar yang pura-pura mati di antara jenazah para korban dan membiarkan dirinya ditangkap pasukan Majapahit. Setelah dibebaskan pasukan Majapahit, Pitar dikisahkan melapor kepada permaisuri Raja Sunda dan putrinya tentang peristiwa tragis yang dialami sang raja beserta semua pengikutnya, yang membuat permaisuri, selir, putri, dan istri para mantri Sunda sepakat untuk melakukan bela pati, dengan bunuh diri di atas jenazah suami-suami mereka.
      Setelah Penyerangan di Bubat
Dari cerita mantri Sunda bernama Pitar, dapat disimpulkan bahwa setelah peristiwa tragis dialami Raja Sunda di Bubat, pasukan Majapahit di bawah Hayam Wuruk datang ke medan tempur Bubat. Pasukan inilah yang menemukan Pitar dan kemudian menangkap, tetapi kemudian membebaskannya. Itu menunjukkan bahwa tidak semua pasukan Majapahit di bawah komando Gajah Mada. Bahkan, pada akhir cerita Kidung Sunda digambarkan bagaimana semua orang Majapahit di bawah Raja Kahuripan dan Raja Daha, paman Hayam Wuruk, menyalahkan Gajah Mada, kemudian memerintahkan untuk membunuh patih tersebut.
Setelah kejadian itu, Hayam Wuruk merasa menyesal atas apa yang terjadi dan dia pun meminta maaf dengan mengirimkan utusan (darmadyaksa) dari Bali, yang saat itu berada di Majapahit untuk menyaksikan pernikahan antara Hayam Wuruk dan Dyah Pitaloka, untuk menyampaikan permohonan maafnya kepada Mangkubumi Hyang Bunisora Suradipati yang menjadi pejabat sementara raja Negeri Sunda, serta menyampaikan bahwa semua peristiwa ini akan dimuat dalam Kidung Sunda atau Kidung Sundayana (di Bali dikenal sebagai Geguritan Sunda) agar diambil hikmahnya.
Akibat peristiwa Bubat ini, dikatakan dalam catatan tersebut bahwa hubungan Hayam Wuruk dengan Gajah Mada menjadi renggang. Gajah Mada sendiri tetap menjabat Mahapatih sampai wafatnya (1364). Akibat peristiwa ini pula, di kalangan kerabat Negeri Sunda diberlakukan peraturan esti larangan ti kaluaran, yang isinya diantaranya tidak boleh menikah dari luar lingkungan kerabat Sunda, atau sebagian lagi mengatakan tidak boleh menikah dengan pihak timur negeri Sunda, yaitu Jawa (Majapahit).
Tinggal Prabu Hayam Wuruk yang termenung sendirian. Ia memang telah dibakar oleh cinta pada pandangan pertama. Bagaimana pun juga, ia adalah negarawan yang masih berusia pemuda. Masih bergejolak. Itulah awal konfliknya dengan Gajah Mada. Dan mundurnya Gajah Mada dari kancak politik membuat Majapahit tidak menemukan negarawan sehebat dirinya. Itulah awal kemunduran kejayaan Majapahit yang akhirnya runtuh dan digantikan rezim kerajaan-kerajaan Islam.

     Jadi....Sebenaranya ada yang harus diubah dalam istilah “Perang Bubat” dengan “Penyerangan di Bubat.” Karena dalam hal ini perang haruslah atas kesiapan kedua belah pihak untuk melakukan saling serang dengan antar kekuatan militer. Namun yang saya lihat disini, meski dalam Kidung Sundayana dikatakan bahwa rombongan dari pihak istana Kerajaan Sunda banyak sekali, tetapi ini adalah untuk acara pernikahan, bukan daan tidak ada niat untuk penyerangan.
 Jadi, sangat riskan bila ini dikatakan peperangan menurut saya, melainkan seharusnya penyerangan. Karena tidak siapnya pasukan pengawal Sunda (Balamati), yang merupakan celah yang menguntungkan menurut Gajahmada agar bisa menguasai kerajaan Sunda. Tapi hal ini merupakan sebaliknya, karena inilah masa dimana kejatuhan Gajahmada.

2 komentar:

  1. Okke . . :)
    kunjungan gan :)

    visit back n isi buku tamu d ana ya
    kalau mau, tukeran link sahabat . . oke . .

    http://www.gugunrh.tk/

    BalasHapus
  2. anjing emang gajah mada
    sumpah palapa sumpah tai !

    hormat ka anu parantos gagah berani mempertahankeun kahormatan diri jeung nagara.

    BalasHapus