Minggu, 27 Mei 2012

Cerita Cinta di Bandung


Sore ini aku buru-buru pulang karena teringat dengan tugas kuliah yang belum ku kerjakan sedangkan besok pagi adalah hari untukku menyerahkannya beserta Persentasinya, Meskipun ini tugas kelompok, tetapi dikelompoku tidak ada yang bisa ku andalkan, malah teman-teman yang lain main dulu ke rumah atau ke kosan teman mereka masing-masing. Aku pun mengencangkan jalanku karena jarak kosanku cukup jauh dari kampus, aku sengaja  mencari tempat yang jauh dari keramaian apalagi dengan kemacetan jalan yang sering terjadi didekat kampus yang membuat nafasku sesak, maklum dari kecil aku sudah punya penyakit asma dan saat ini asmaku semakin kronis. Aku pulang dengan berjalan kaki karena tadi pagi ku tak menggunakan Motor karena berangkat bareng dengan teman sekelasku Randy.
Setelah ku sampai di kosan bergegas ku untuk mengambil air wudhu dan shalat, baru sehabis itu aku langsung makan dulu dan kemudian ku buka laptoku dan mencari beberapa buku untuk ku jadikan referensi, sedang sisa isinya ku coba cari di blog untuk mempercepat tugasku agar  cepat selesai, karena badanku yang sudah lelah, akibat tadi pagi sebelum kuliah aku beserta anak-anak sekelas pergi latihan bermain Basket di Auditorium. Hampir 3 jam ku kerjakan tugas, namun tugasku baru sebagian sub judul makalahku yang baru kukerjakan ditambah mataku yang telah lelah sepertinya meminta untuk dipejamkan, aku pun pergi ke kamar mandi dan mengambil segelas air minum untuk sedikit menyegarkan mataku, aku pun kembali bertarung dengan tugasku yang ingin cepat-cepat kuselesaikan agar bisa sesegera beristirahat.
Tetapi,,, tak lama setelah ku mencoba mengerjakan tugasku terdengar Hp ku yang berada di kantong celanaku berbunyi, aku pun bangkit dan lekas mengambilnya. Saat kulihat siapa yang menelpon, ternya itu adalah Rina teman dari Pacarku yang pernah dia kenalkan kepadaku dan juga merupakan teman kami diskusi dikampus meskipun berbeda Fakultas, bahkan Rina bisa disebut sahabat karibnya Mila dari semester satu, bahkan kosan mereka berbarengan. Lalu ku angkat telpon itu dan terdengar suara Rina dibalik telpon tersebut
“Haloo..rangga?” katanya sambil seperti ada sesuatau yang terjadi. “Ia ada apa rin?” Jawabku. “Ga, kamu lagi dimana sekarang? Bisa kesini sekarang ga?” Tanya Rina lagi. “Kesini kemana Maksud kamu?, emang ada apa?” sahutku dengan penuh keingin tahuan. “gini Ga, tapi kamu kesini dulu aja.. ini tentang Mila” Jawab Rina. “Milaa??? Emang Mila kenapa Rin? Ada apa dengan Mila?” balik ku bertanya. “Mila kecelakaan ga,,,!!” jawabk Rina lagi. “apa kok bisa??” tanyaku lagi pada Rina dengan penuh ketidak percayaan atas apa yang terjadi. “Udah ga, jangan banyak tanya sekarang kamu kesini aja, aku lagi di Rumah Sakit Al-Islam, Mila lagi koma”.. jawab Rina.
Hpku langsung ku matikan meski terdengar suara Rina berkata “Halloo ga”, kulangsung mengambil kunci dan helm tanpa merapihkan kerjaanku. Aku pun bergegas menyalakan motor dan langsung tancap gas ke menuju Rumah Sakit. Tetapi setelah ku keluar dari jalan kosanku menuju jalan raya Sukarno-Hatta keadaan jalan saat itu masih macet padahal sudah hampir jam 10 malam, dan ini tak seperti bisaanya. Perasaanku bercampur, bukan hanya sedih mendengar orang yang kusayangi terkena musibah, tetapi hatiku juga bercampur kesal karena keadaan jalan yang seperinya tak mendukungku, “mungkin alloh sedang mengujiku” tertegun suara hatiku dalam keadaan yang seperti itu. Sudah setengah jam lebih aku terjebak macet, dan jarakku hanya bertambah beberapa puluh meter. Hatikupun kembali seperti berkata “bodoh,, kenapa aku tidak berputar saja agar lebih cepat”… tetapi sayang sayang saat itu aku sudah tak bisa untuk memutar karena terjebak kemacetan ditambah asap kenalpot yang membuat nafasku sedikit sesak. Kemudian kudengar lagi Hpku berbunyi, dan kulihat sebuah sms ternyata dari Rina juga, lalu kubaca “ga, km msh dmn? Cepetan….” Akupun membalas sms itu “ia rin, ini lg di Ushain soalnya mcet” .
Setelah beberapa meter dari kemacetan, akupun langsung kembali menancap penuh gas motorku agar cepat sampai dan ingin segera bisa melihat keadaan Mila… namun sayang baru kulihat pintu masuk Rumah Sakit ternyata disana juga sedang macet, mungkin karena banyaknya keluar masuk pasien atau penjenguk atau karena tukang angkot yang lagi ngetem… “hah benar-benar kesabaranku sedang di uji, padahal Rumah Sakit hanya tinggal beberapa meter lagi, tetapi kenapa harus macet” keluhku dalam hati..
Setelah ku sampai ke rumah Sakit, ku langsung Parkirkan Motorku dan bergegas lari ke rauang Resepcionis untuk bertanya dimana kamar yang Bernama Mila. “Mbak, Maaf kalo kamarnya Mila yang baru masuk sore ini karena kecelakaan sebelah mana ya??” Tanyaku pada seorang Resepcionis Rumah Sakit. “Mila apa Mas nama panjangnya?” Tanya Rcepcionis. “Mila Maratusshalihat” jawabku. “oh… ia ini ada Mas, di Kamar Angrek no 8” Jawab Mbak tersebut. Aku pun bergegas mencari kamar yang dimaksud, setelah ku temukan kamar tersebut, akupun langsung bergegas masuk. Tapi, saat ku lihat kedalam kamar hanya ada seorang suster yang sedang merapikan kamar tersebut. Akupun bertanya dimana Mila sekarang “Sus, tadi kata Resepsionis kamar ini di isi sama orang yang bernama Mila, tapi kok ga ada ya?” tanyaku dengan penuh keheranan.“Oh, ia Mas emang tadi ada tapi sudah dipindahkan” jawab suster. ”kemana ya Sus?” tanyaku. Baru Resepcionis tersebut berkata “Ke….” Hpku kembali berdering dan tak kulihat langsung ku angkat, ku langsung bertanya “Sekarang Mila dimana? Kata resepcionisnya dipindah” Tanyaku. “Ga… Milaaaa….” Terdengar suara seperti bersedih yang amat dalam dari suara Rina. “Mila? Mila kenapa Rin? Sekarang Milanya dimana? Ayoo jawab” tanyaku dengan suara agak tinggi. “Mila… Mila… udah gak ada ga” jawab Rina. “Ia memang Mila udah ga ada, kata susternya dipindahin” sahutku. “bukan Itu ga, tapi Milaa…. Mila udah ga ada, Mila udah pergi buat selama-lamanya”. Daaaaarrr… seperti petir disiang bolong mendengar orang yang kita sayang pergi meninggalkan kita untuk selama-lamanya.
Mungkin karena mendengar pembicaraanku, suster tersebut lalu berkata “Maaf Mas, tadi pasien yang dirawat disini sudah tidak bisa tertolong lagi, sekarang dia dipindahin ke kamar mayat di ujung koridor sebelah kiri.” Aku pun langsung kembali berlari dan mencari tempat yang dimaksud, sambil berharap apa yang terjadi tidak benar-benar terjadi. Setelah kutemukan tempat yang dimaksud kulihat Rina bersama Ibunda Mila  sedang duduk didepan Kamar Mayat, terlihat mereka bersedih dan mengucurkan Air mata. Kaki ku pun yang tadinya berlari mulai melambat melihat kesedihan dari mereka berdua, lalu aku langsung bertanya dimana Mila. “Tante, Mila dimana?” tanyaku. “Mila, Mila didalam rangga” jawab ibunda Mila dengan bertambah sedih. Akupun ingin segera masuk untuk melihat Mila, tetapi aku mencoba kembali bertanya agar mereka tidak begitu sedih, sedangkan aku sendiri meskipun begitu sedih mencoba untuk tidak memperlihatkan kesedihanku dihadapan mereka.“lalu Om kemana tante?” tanyaku, “Om lagi ngurusin Administrasi sama Ambulance untuk membawa Mila pulang.” Jawabnya. Aku pun berbicara beberapa kalimat tentang kebaikan Mila, dan juga penyesalanku beserta permintaan maafku apabila berbuat salah pada Mila.”enggak apa-apa ko ga, malah tante yang minta maaf kalau Mila berbuat salah sama kamu”. “Oh enggak ko tante, Mila orangnya baik, Mila gak pernah berbuat salah sama rangga” aku pun ikut bersedih mengingat semua kebaikan Mila.
 Setelah berbicara dengan ibunda Mila, akupun bergegas menuju Rina, dengan beberapa hal yang Ingin kku tanyaka. Kulihat Rina tertenduk lesu sama sepertiku tak bias menerima apa yang terjadi.
     “Rin” ucapku.
“Ia ga?” jawab Rina.
“Kamu tau gimana kejadiannya, sampai Mila kecelakaan?” tanyaku
“Ia ga, soalnya tadi aku sepulang kuliah pergi bareng sama Mila” jawabnya.
“emang kemana?” tanyaku lagi.
“Aku tadi di ajak Mila buat beli kado untuk kamu, katanya besok kamu ulang tahun ya ga?” jawab Rina dengan menerangkan.
‘Ia, tapi kenapa ko Mila bias ampe kecelakaan gitu?’ tanyaku dengan heran.
“tadi, sebelum Mila tertabrak kami berdua nyebrang keluar dari Mall, tetapi setelah hampir sampe disebrang Mila balik lagi buat ngambil kadonya, yang terjatuh karena takut terlindas Truk. Sayang sebelum Mila meraih kadonya Truk dengan cepat menabrak Mila hingga tubuh Mila terpental jauh, lalu aku pun segera menelpon Ambulance untuk segera membawa Mila ke rumah Sakit agar bisa terselamatkan, dan setelah di Rumah sakit keadaan mila keritis dan Akhirnya tak bias tertoloh” Jelas rina.
“Kenapa, kenapa ga dibiarin aja kadonya? Padahal aku gak pernah ngeharepin apaun hadiah dari dia” jawabku sambil merasa bersalah.
“Oh ia ga, ini kado yang mau dikasih Mila sama kamu, katanya kamu udah lama banget pengen Jaket yang kayak gini, tapi katanya uang kamu belum cukup” ucap rina sambil memberikan kado terakhir dari Mila.
Setelah melihat apa yang diberikan Mila, aku pun merasa tambah bersalah, atas apa yang aku inginkan beberapa bulan lalu. Aku pun kemudian berlari menuju kamar mayat untuk melihat Mila, namun karena Lampunya tidak dinyalakan aku pun mencari saklar listrik dengan hp. Setelah saklar ku temukan disisi dingding, lalu aku nyalakan lampu diruangan tersebut. Tapi aku yang masih bersedih terkejut melihat Mila membawa sebuah kue dikelilingi lilin beserta teman-temanku, disaat itu pula ada ayah Mila yang ikut mengucapkan ulang tahun kepadaku, Rina beserta Ibunda Mila dan Suster pun masuk dan tertawa melihat ekspresiku yang kelihatan masih bingung. Mila pun lalu mendekatiku dan berkata “Maaf ya bi.. udah buat abi khawatir”. Akupun sedikit malu, namun senag karena orang yang kusayang tak lagi hilang dan pergi untuk selamanya, “ia gak apa-apa, abi kirain beneran apa yang terjadi sama amy” aku pun mengusapkan tanganku ke atas kepalanya lalu mengecup sedikit keningnya, sebagai tanda sayangku.  “Love U a Me”                   

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

[url=https://www.auroramine.com/?ref=40416][img]https://www.auroramine.com/assets/images/banner/b2.gif[/img][/url]